Minggu, 15 November 2009

LAPORAN STUDI KASUS
PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN

2007



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam keseluruhan proses pendidkan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan sedikit banyak bergantung pada bagaimana proses belajar yang dialami oleh murid sebagai anak didik.
Sedangkan belajar sendiri menurut howard L. Kingsley
Learning is the proses by which behavior (in the broader sense) is originated or changed through practice or training.
Belajar merupakan proses dimana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbuklkan atau diubah melalui praktek atau latihan.
Jadi belajar merupakan proses dari perkembangan hidup manusia. Dengan belajar, manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif indifidu sehingga tingkah lakunya berkembang. Semua aktifitas dan prestasi hidup tidak lain adalah hasil dari proses belajar. Belajar adalah suatu proses, dan bukan suatu hasil. Karena itu, belajar berlangsung secara aktif dan integrative dengan menggunakan berbagai bentuk perbuatan untuk mencapai suatu tujuan.
Oleh karena itu apabila dalam proses itu mengalami hambatan-hambatan maka prose situ akan terganggu dan hasil yang dicapai tidak dapat maksimal. Dimana hambatan hambatan itu dapat dating dari berbagai sumber baik internal maupun eksternal. Dari internal misalnya bakat, minat dll. Dari eksternal misalnya dari lingkungan keluarga, masyarakat, dukungan pihak sekolah, dll.
Disini dituliskan laporan dari observasi mengenai kasus atau masalah yang dihadapi siswa sehingga berpengaruh dalam proses belajarnya.

B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas maka dapat dirumuskan pertanyaan sebagai berikut:
a. siapa siswa yang mempunyai problem atau masalah?
b. Masalah yang bagaimana yang dialami siswa tersebut?
c. Bagaimana analisis masalah berdasarkan teori?
d. Bagaimana diagnosa dan prognosa kasus tersebut?
e. Apa saja data yang mendukung observasi ini?
f. Bagaimana deskripsi dari instrumen yang digunakan?
g. Bagaimana hasil dari instrumen yang digunakan?

C. Tujuan
Tujuan dari penyusunan laporan ini ini ialah:
a. Mengetahui siswa yang mempunyai problem atau masalah.
b. Mengetahui masalah yang dialami siswa tersebut.
c. Dapat menganalisis masalah berdasarkan teori.
d. Diagnosa dan prognosa kasus tersebut.
e. Mengetahui data yang mendukung observasi ini.
f. Mengetahui deskripsi instrumen yang digunakan.
g. Mengetahui hasil dari instrumen yang digunakan.
.




















BAB II
PEMBAHASAN

A. Identifikasi
Identitas Siswa
Nama Lengkap : HC
Nama Panggilan : H
Tempat dan Tanggal Lahir : Gresik, 17 Juni 1991
Umur : 17 th
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Asal Suku : jawa
Kewarganegaraan : Indonesia
Alamat :...........................
Keadaan Kesehatan : Saat ini Hendra dalam keadaan sehat
Sering sakit saat SD
Kesehatan sering terganggu Flu
Berat dn tinggi badan : 38 kg/ 165 cm
Gol darah : O
Pendidikan : SMA
Anak ke : 1 dari 3 bersaudara
Jumlah saudara laki-laki : 2
Jumlah saudara perempuan : -

Data Keluarga:
1. Ayah
Nama Lengkap : S
Tempat dan tanggal lahir :
Alamat dan Tlp rumah : ..............................
Kewarganegaraan : Indonesia
Asal suku : Jawa
Pekerjaan : Swasta
Pendidikan terakhir : SMA

2. Ibu
Nama Lengkap : E
Tempat dan tanggal lahir :
Alamat dan Tlp rumah : .............................
Kewarganegaraan : Indonesia
Asal suku : Jawa
Pekerjaan : Pegawai TU
Pendidikan terakhir : SMEA

Riwayat Sekolah
Data Pendidikan
N0. Riwayat Sekolah TK SD/ MI Sederajat SMP/ MTs Sederajat
1
2
3
4 Tahun Masuk
Tahun keluar
Nama sekolah
Lama belajar 1996
1997

Alasan Masuk SMA Sekarang : - Dekat dengan rumah
- Sama dengan pacar
Program yang diinginkan : IPA
Cita-cita setelah tamat : Dokter, Polisi
Mata pelajaran yang disukai : Bhs. Jepang
Mata pelajaran yang tidak disukai : Akuntansi
Masalah belajar : hafalan, menghitung
Belajar di rumah : Pukul 18.00-19.00 WIB

Data Lain Sebagai Siswa:
Kesekolah pulang-pergi ke sekolah naik : sepeda motor
Kegiatan diluar sekolah : Main band, kadang ngamen, main PS di rumah temen, di warung
Ikut Les Privat : tidak
Ekstrakurikuler yang diikuti : Voly dan basket
Alasan ikut Ekstrakurikuler : dulu pacar juga ikut Voly

B. Analisis Masalah
Deskripsi kasus
Konseli adalah seorang laki-laki berumur 17 tahun bernama HC. Dia tercatat sebagai siswa kelas XI IPS 1 di SMA Negeri X. Kondisi dikeluarganya di rumah orangtuanya sering bertengkar, dia juga sering keluar malam, dan orangtuannya sering memarahinya itu membuatnya enggan dirumah, dan penghiburnya adalah pacarnya. Awal kenaikan kelas XI dia putus dengan pacarnya, padahal dia sangat sayang pada pacarnya. persepsinya bahwa jika dia tidak putus dengan pacarnya atau sekarang dia mempunyai pacar yang mendukungnya dia akan lebih baik dari sekarang. Tetapi dia juga masih takut akan disakiti oleh wanita lagi.
Menurutnya dia putus karena pacarnya selingkuh. Untuk mengalihkan kekesalannya dia malah melakukan banyak kegiatan diluar rumah, dan kegiatan diluar sekolah terutama akhir pekan sehingga sering membuatnya lelah. Apalagi ditambah dengan kegiatan dirumah seperti membersihkan rumah.
Dalam bidang akademik konseli termasuk siswa yang pas-pasan, tidak terlalu berminat dengan pelajaran yang berhubungan dengan angka dengan dalih guru galak atau tidak menyukai gurunya.
Dari data instrumen problem checklist dilaporkan beberapa pokok yang dialami yakni (1) Bercinta dalam masa sekolah dapat menjadi dorongan, (2) saya kesepian karena belum mempunyai pacar, (3) sering malas masuk sekolah, (4) sering meninggalkan pelajaran, (5) sering membolos, (6) merasa kurang dimengerti guru, (7) pelajaran bersifat menghafal sukar bagiku, (8) sering sakit saat SD, (9) Sering sakit ketika sekarang, (10) Kesehatan saya sering terganggu, (11) saya sering pusing, (12) mearasa lelah dan tidak semangat, (13) uang saku saya tidak tercukupi, (14) terpaksa sambil bekerja karena ekonomi tidak tercukupi, (15) saya tidak ingin orang tua sering mengekang, (16) orang tua kurang memperhatikan saya, (17) mudah tersinggung.
Dari tes who am I diperoleh data senilai 31.5 yang berarti bahwa konseli adalah orang yang optimis menyenangkan dalam bergaul dan percaya diri.
Hasil dari wawancara menunjukkan bahwa ia sering membolos karena malas dan terkadang karena kelelahan atau sakit. Selain itu ia tidak suka ketika ayahnya marah kepada ibunya, juga dia tidak suka diingatkan dengan cara dimarahi. Bagi konseli dukungan pacar sangat berpengaruh.

Masalah konseli
Konseli sering tidak masuk sekolah, sehingga mengakibatkan dia banyak ketinggalan pelajaran dan tugas-tugas yang tidak dikumpulkan. Padahal sebentar lagi menghadapi Ujian semester.

Faktor penyebab masalah konseli
- putus dengan pacar, padahal dia sangat sayang dan pacar merupakan pendukung yang kuat bagi konseli untuk rajin sekolah
- orang tua dirumah sering bertengkar dan itu membuatnya tidak betah dirumah.
- Sering sakit (tidak enak badan)
- Tidak suka kepada guru di sekolah.

Akibat masalah bagi konseli
Akibat dari masalah konseli ialah dia sering ketinggalan pelajaran dan sering tidak mengerjakana tugas, sehingga nilai-nilai ulangan hariannya menjadi jelek. Dikhawatirkan ini akan berlanjut dan pasti akan mempengaruhi ujian semester yang akan diadakan sebentar lagi. Dan hal ini dikarenakan konseli sering tidak masuk sekolah. Sedangkan dia merasa tertekan karena kondisi orangtuanya yang sering bertengkar, dan ayahnya yang selalu menyalahkan ibunya, dan dia tidak suka itu. Dan dia tidak punya tempat untuk mencurahkan apa yang sedang dialaminya. Dia merasa hanya dengan pacarnya ia dapat merasa lega.
Sementara dia sudah putus dengan pacarnya. Dia ingin punya pacar lagi agar dapat memotivasi dirinya akan tetapi dia takut akan disakiti lagi. Selain itu dia merasa lebih baik juga jika jalan-jalan dengan teman-temannya yang kadang hingga larut malam bahkan dihari aktif sekolah, karena dia tipe anak yang mudah lelah sehingga kesehatannya sering terganggu. Dan itu membuatnya malas untuk pergi sekolah.

Keinginan konseli
- ingin punya pacar lagi
- tidak ingin orangtuanya bertengkar, menjadi keluarga yang harmonis seperti dulu.
- Konseli ingin jika mengingatkan dia orangtuanya tidak dengan marah-marah, apalagi ayahnya memarahi ibunya, tetapi dia tidak berani menyampaikan keinginannya.
- Konseli ingin dekat dengan semua guru sehingga dia tidak membeda-bedakan pelajaran.

C. Analisis Masalah Berdasarkan Teori
Analisis kasus menggunakan model konseptualisasi kasus swensen sebagai berikut:
Perilaku Bermasalah Tekanan Kebiasaan Perilaku dan Pertahanan Maladaptif
- Trauma
- Tidak begitu senang dengan ayahnya
- Tidak senang dengan kondisi keluarga yang sering bertengkar
- Merasa kurang diperhatikan oleh keluarganya
- Ketakukan memaksanya untuk marah
- Merasa guru-guru di sekolah galak
- Menganggap kebanyakan wanita sombong - Putus dengan pacar
- Orangtua sering bertengkar
- Kurang akrab dengan guru
- Sering mengalami gangguan kesehatan - Sering tidak masuk sekolah, sering membolos jam pelajaran
- Sering tidak mengerjakan tugas
- Sering keluar malam
- Sering usil
Dukungan Potensi/ Kekuatan Pertahan dan Kebiasaan Adaptif
- Dekat dengan ibunya
- Mempunyai banyak teman - Percaya diri
- Optimis
- Mempunyai bakat dalam seni terutama musik dan olahraga - Mengerjakan tes dengan jujur
- Mengikuti instruksi tes
- Dapat bergaul dengan baik

D. Diagnosa dan Prognosa
Diagnosa
Dalam tahap ini konselor mencari penghambat atau latar belakang masalah yang dialami siswa (konseli) yang meliputi aspek psikologis, fisiologis, lingkungan dan instrumental.
a. Aspek psikologis
Dari hasil tes psikologis diketahui nilai IQ konseli adalah 99 yaitu tergolong rata-rat, konseli juga berpikir jika dia mempunyai pacar maka dia dapat rajin sekolah. Tetapi dia masih takut akan disakiti lagi oleh wanita. Sdangkan dari data instrumen diperoleh bahwa bahwa konseli adalah individu yang percaya dirinya tinggi.
b. Aspek Fisiologis
Berdasarkan instrumen DCM diketahui bahwa siswa sering sakit sejak masih SD, mudah lelah, sering gugup, sering pusing dan sulit tidur.

Kemungkinan Masalah Faktor Penyebab Kedalaman Masalah
Konseli sering tidak masuk sekolah, dan sering tidak masuk kelas/ pelajaran. - Putus dengan pacar sehingga tidak ada penyemangat
- Orangtua yang sering bertengkar membuat konseli tidak betah dirumah
- Konseli sering menghabiskan banyak waktu diluar rumah
- Konseli cepat lelah sehingga mudah sakit.
Dulu konseli adalah orang yang rajin, menyenangkan dan mudah bergaul. Tapi diawal kenaikan kelas XI konseli mulai menunjukkan gejala sering tidak masuk sekolah ataupun tidak masuk kelas/ pelajaran. Sering tidak mengerjakan tugas, juga ketinggalan pelajaran. Dikhawatirkan ini akan mempengaruhi proses belajar kedepannya dan mengganggu kegiatan ujian semester yang diadakan sebentar lagi. Hal ini karena konseli tidak mempunyai semangat untuk pergi sekolah karena putus dengan pacar, dia ingin punya pacar lagi tapi takut akan disakiti lagi, dia juga karena sering keluar malam dan mengakibatkan sakit karena dia tipe anak yang mudah lelah.

Prognosis
Prognosis ialah menentukan alternatif langkah yang akan diberikan kepada siswa berdasarkan deskripsi kasus yang telah diketahui bahwa konseli ingin kedua orangtuanya tidak sering bertengkar, dan dia ingin mempunyai pacar yang dapat mendukungnya(menyemangatinya), dan dia menjadi siswa yang tidak membeda-bedakan pelajaran.
Dalam hal ini digunakan strategi Cognitif restrukturing untuk mengubah persepsi-persepsi konseli yang salah dan menggantinya dengan yang benar. Selain itu digunakan pendekatan analisis transaksi diharapkkan konseli mampu menyampaikan keinginannya kepada orangtuanya agar tidak bertengkar lagi.

Gejala/ Peristiwa Alternatif Bantuan Alasan
Konseli sering tidak masuk sekolah, dan sering tidak masuk kelas/ pelajaran. Juga sering tidak mengumpulkan tugas. - Strategi Cognitif restrukturing
Prosedur :
1. rasional (tujuan dan tinjauan singkat/overview.
2. mengidentifikasi pikiran konseli dalam situasi problem.
3. pengenalan dan latihan coping thought (pikiran-pikiran yang mengatasi)
4. pengenalan dan latihan pengaruh positif.
pemberian tugas rumah dan tindak lanjut.
- Pendekatan analisis transaksional
- untuk mengubah pola pikir negatif
- membantu konseli untuk mengungkapkan pendapatnya

E. Data Pendukung
- Wawancara dengan konseli
karena dari data yang diperoleh dari presensi dan disukung dengan pemberianangket maka diadakan wawancara dengan konseli guna memperoleh data atau informasi lebih lengkap mengenai konseli.
- Wawancara dengan teman konseli
Bedasarkan instrumen-instrumen pendukung yang telah diberikan tersimpulkan bahwa konseli adalah seorang yangoptimis dan menyenangkan dalam bergaul. Akan tetapi sekarang dia jauh lebih pendiam dan sering tidak masuk sekolah dan bahkan sering membuat keusilan di kelas.
- Wawancara dengan guru BK kelas
Dari sejak awal masuk kelas XI konseli sudah terlihat bandel dalam hal membolos. Juga pernah dihukum karena tidak mengerjakan tugas. Karena konseli sering tidak masuk sekolah

F. Deskripsi Instrumen
Dalam kegiatan observasi studi kasus ini alt instrumen yang digunakan antara lain:
1. Tes Problem Checklist
Checklist atau daftar cek hampir sejenis dengan angket pengumpulan data secara tertulis. Checklist disusun dalam sejumlah pernyataan, yang harus diberi tanda cek ( ) atau ditandai oleh setiap responden ( penjawab ). Pada umumnya checklist dipergunakan untuk mengumpulkan data tentang masalah-masalah yang dihadapi. Individu memberikan tanda-tanda atau cek kepada sejumlah pernyataan-pernyataan yang merupakan masalah-masalah yang dihadapinya. Dimana pengungkapan masalah-masalah melalui problem checklist ialah setiap siswa dipergunakan satu daftar cek dan digunakan untuk mengungkapkan masalah-masalah yang dihadapi individu tersebut.
2. Wawancara
Wawancara merupakan tekhinik pengumpulan data dengan cara mengajukan pertanyaan secara langsung/ secara lisan dan dijawab responden secara langsung dan secara lisan pula. Berdasarkan subjek atau responden dan tujuan wawancara, dapat dibedakan menjadi:
- wawancara jabatan, merupakan wawancara yang ditujukan untuk mencocokkan seorang pegawai dengan pekerjaan yang tepat.
- Wawancara disipliner atau wawancara administratif adalah wawancara yangditujukan untuk “menuntut” perubahan tingkah laku individu kearah kegiatan yang diinginkan oleh pewawancara.
- Wawancara konseling adalah wawancara yang bertujuan membantu individu dalam mengatasi atau memecahakan masalahnya.
- Wawancara informatif/ fice-finding adalah wawancara yang merupakan proses interaksi dan komunikasi yang bersifat profesional, sehingga dilakukan oleh orang yang memiliki kecakapan berwawancara, dengan menggunakan instrumen yang yang disiapkan untuk menggali informasi tertentu.
Berdasar responden yang diinterview, wawancara dibedakan atas wawancara lengsung dan tidak langsung, apabila data yang dikumpulkan langsung diperoleh dari individu yang bersangkutan. Wawancara bersifat tidak langsung, apabila wawancara yang dilakukan dengan seseorang untuk memperoleh keterangan mengenai orang lain, misalnya wawancara dengan orangtua siswa, BK kelas, ataupun teman-teman.
Berdasarkan prosedurnya wawancara dibedakan atas wawancara berstruktur atau wawancara tidak berstruktur. Disebut wawancara berstruktur apabila pertanyaan-pertanyaan yanng diajukan dalam wawancara telah telah disusun secara jelas dan terperinci sebelumnya. Dengan demikian pelaksanaan wawancara mengacu pada pedoman pertanyaan tersebut. Sedangkan wawancara tak berstruktur yaitu apabila pertanyaan yang diajukan tidak disiapkan secara terperinci. Dengan demikian pertanyaan yang diajukan lebih bersifat fleksibel. Berdasarkan perencanaannya wawancara dibedakan atas wawancara berencana dan insidentil. Berencana apabila waktu dan tempat telah disepakati sebelumnya. Dan insidenyil apabila waktu dan tempat tidak dijadwalkan terlebih dahulu.
3. Tes who am I
Teknik ini terdiri dari sejumlah statemen. Sebagian dari statemen tersebut adalah tentang sifat-sifat kepribadian yang positif, dan sebagian lagi adalah tentangsifat-sifat negatif. Di depan tiap-tiap statemen disediakan tiga kolom pilihan yaitu: (1)sangat cocok dengan diri saya. (2) agak cocok dengan diri saya, (3) tidak cocok dengan diri saya. Dalam pelaksanaan teknik ini siswa diminta untuk mengisi tanda cek pada kolom yang sesuai. Terhadap jawaban siswa diberikan skor tertentu. Untuk statemen positif jawaban sangat ccocok diberi skor 1 (satu) jawaban agak cocok diberi skor 0 (nol), dan jawaban tidak cocok diberi skor -1 (minus satu). Sebaliknya untuk statemen negatif jawaban sangat cocok diberi skor-1 (minus satu0, jawaban agak cocok diberi skor 0(n0l) dan jawaban tidak coco diberi skor 1 (satu) dan kemudian data dihitung.
4. Tes kepercayaan diri
Tes/ angket kepercayaan diri ialah teknik yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana tingkat kepercayaan individu tersebut, yaitu dengan cara memberikan tanda cek pada statemen yang telah disediakan p ada kolom-kolom yang terletak pada lembar jawaban. Terdapat empat kriteria (1) tidak pernah dengan skor 0, (2) jarang dengan skor 1, kamudian kadang-kadang dengan skor 2, lalu sering dengan skor 3, dan sangat sering dengan skor 4. yang kemudian dihitung berdasarkan jumlah tanda cek yang ada.
5. Tes ssct.
SSCT adalah tes sikap yang dikembangkan oleh Sacks yang membentuk kalimat-kalimat yang tidak sempurna. Anak yang dites diminta untuk melengkapi kalima-kalimat tersebut. SSCT terdiri dari 60 kalimat yang yang belum lengkap yang kelengkapan dari masing-masing kalimat ini akan menggambarkan keadaan sikap-sikap yang dimiliki oleh anak yang dites. Kegunaan alat tes ini adalah untuk mengetahui sikap anak terhadap:
- diri sendiri
- keluarga, ayah/ ibu
- lingkungan / teman-teman dan atasannya
- tugas-tugasnnya
Apakah anak tersebut mengalami gangguan atau terdapat konflik pada sikapnya terhadap diri sendiri ataupun terhadap rangsang-rangsang dari luar dapat diungka0p dari skala yang diperoleh dari data tersebut.
SIMPULAN
Kesimpulan.
beberapa kesimpulan yang dapat dituliskan dalam laporan ini diantaranya adalah :
Dalam laporan ini dapat disimpulkan bahwa Hendra seringnya tidak masuk sekolah sehingga ketinggalan pelajaran dan sering tidak mengerjakan tugas.
Hal ini dikarenakan kurang motif dalam belajar, situasi keluarga dan kesehatan yang sering terganggu.
Oleh karena itu penulis memilih strategi Cognitif Restructuring dan Analisis transaksional sebagai alternatif teknik pemecahan masalah.
Saran.
Saran untuk orang tua.
1. Sering-seringlah berkomunikasi dan berinteraksi dengan anak dengan cara yang baik.
2. berikanlah perhatian yang cukup untuk anak
Saran untuk Konseli.
1. Cobalah untuk menghilangkan pikiran negatif tentang wanita
2. Belajarlah menyampaikan apa yang kamu inginkan.
3. Belajarlah untuk bertanggung jawab.
















DAFTAR PUSTAKA

Corey, Gerald. 2005. TEORI DAN PRAKTEK KONSELING DAN TERAPI. Bandung. PT Refika Aditama.

Nursalim, Mochamad, dkk. STRATEGI KONSELING. Surabaya; UNESA University Press.

Laksmiwati, Hermien, dkk. 2005. MENCERMATI MASALAH KETERAMPILAN MELAKSANAKAN STUDI KASUS WUJUD KINERJA KONSELOR SEKOLAH.. Surabaya; UNESA University Press.

W, S, Winkel. 1991. BIMBINGAN DAN KONSELING DI INSTITUSI PENDIDIKAN. PT Grasindo; Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar